Kotak Coklat

Kotak coklat tak bermakana di ujung jalan, tak  ada yang memperdulikannya, tiap hari ia selalu melihat orang-orang melewatinya, mereka enggan mendekati, jangankan untuk mendekati hanya sekedar menyapa pun mereka tak mau, orang-orang yang diliatnya hanya sibuk dengan urusan mereka hanya sibuk dengan urusannya sendiri bahkan orang-orang yang ia lihat tak peduli satu sama lain, entah apa yang ada di isi kepala orang-orang yang selalu melewati jalan tersebut.

Sang kotak coklat hanya bisa berdiam diri, ia tak tau harus berbuat apa, yang bisa ia lakukan hanya menunggu

siapa yang ia tunggu ?

Apa yang ia tunggu?

Kapan ia harus berhenti menunggu?

Pertanyaan-pertanyaan yang sulit di jawab ini selalu terpikir oleh si kotak coklat, ia merenung dan mengingat masa-masa dimana ia Berjaya, masa-masa ia masih di butuhkan oleh orang-orang yang setiap hari ia lihat,  masa ketika ia bersama seseorang yang begitu amat memperhatikanya ketika sang kotak coklat jatuh dan seseorang tersebut amat khawatir dengan apa yang dilundingi oleh sang kotak, masa dimana ia diajak pergi oleh seseorang hanya karena ia amat membantu seseorang tersebut, masa dimana ia senang melihat seseorang tersenyum karena bantuanya, masa dimana anak-anak selalu bermain dengannya.

Kini masa-masa itu telah sirna menjadi angin lalu, tak ada lagi seseorang yang menemaninya, tak ada lagi senyum yang ia lihat, tak ada lagi canda khas anak kecil yang selalu bermain denganya, dan sekarang ia sendirian berteman dengan debu jalanan.

Karena sesuatu hal kecil ia di buang begitu saja di di ujung jalan, seseorang yang tak bertanggung jawablah yang telah merusaknya, bagai tak punya dosa seseorang ini pergi dan meninggalkan kardus coklat sendirian, kepanasan di ujung jalan.

Hari terus berlalu tanpa bisa dihentikan, sang Kotak coklat masih tetap ada di ujung jalan tersebut, ia semakin kotor , entah ini kabar baik atau kabar buruk sang kotak coklat kini mempunyai banyak teman dari mulai pelastik bekas dan barang-barang kotor yang di buang oleh orang-orang yang setiap hari iya lihat di ujung jalan

Entah Mengapa kotak coklar merasa tidak bahagia walaupun sekarang ia sudah punya teman banyak, ia hanya bahagia ketika seseorang yang pernah ia lihat senyumnya kembali padanya dan membawa pulangnya dan ia merindukan senyumnya

 

Semoga yang saya tulis bisa dimengerti para pembaca

 

 

 

-Karya Dwi Gumelar

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *