Renungan Hati untuk Semua Insan

Matahari yang selalu memberi warna di setiap waktu datangnya siang, bulan yang selalu menemani malam dengan keindahan disetiap terpaan cahayanya, bintang yang selalu berkedip disetiap malam yang cerah, planet-planet yang terus mengelilingi bintang besar (matahari) yang terus membentuk indahnya sistem tata surya

fullhdpictures.com

fullhdpictures.com

Namun ada pula mendung yang menyelimuti langit membentuk awan hitam yang bergerombol, memancing gemuruh untuk menggema, mendatangkan halilintar yang begitu menakutkan. Hujan badai yang tak terelakkan menghantam apa yang ada di sekelilingnya.

Disetiap ketakutan Allah ciptakan ketenangan hati, di setiap kegundahan Allah ciptakan kekuatan hati, membimbingnya untuk selalu menata dan memperbaiki diri. Bertafakur dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Astagfirullah, betapa hati ini sempit hanya mampu berfikir kepentingan sendiri, keegoisan yang merajalela, nafsu yang terus dipelihara, bimbingan syetan yang terus dipenuhi, membuat hasrat jiwa begitu jauh dengan Sang Pencipta.

Sudah kah lakon yang kita jalankan sesuai dengan skenario Allah? Sudah kah peran kita sebagai hamba telah terpenuhi? Entahlah, jawaban itu hanya ada di dalam hati setiap makhluk.. Begitupun aku !!

festivalsadvices.com

festivalsadvices.com

Aku yang masih sering mengeluh di setiap rasa cape melanda, padahal dalam ilmu Al-hikam (syekh ibnu athoillah as-syakandari) mengingatkan rasa cape di dunia tak sebanding dengan apa yang nanti kita jalankan di kehidupan akhirat nanti.

Bayangkan 1 hari di akhirat bagaikan 1000 tahun di dunia  subhanallah.

Tersentak aku mendengar kajian ini, menamparku betapa bodohnya diri ini dalam menata hati.

Aku yang masih meratapi kesedihan dengan meninggalnya orang-orang terkasihku, masih mengandai-andai bila beliau-beliau masih ada, mungkin sesuatu yang tak aku inginkan tidak akan pernah terjadi.

Tapi hatiku sangat bergetar saat aku membaca ayat Allah SWT yang berbunyi “ setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati “ .

salahkah aku bila aku masih mengharapkan mereka hadir disetiap rongga kehidupanku? Melihat aku tumbuh dewasa dan sampai meraih kesuksesanku? Aaaarggh begitu pongahnya aku bila terus  berfikfir seperti itu, tak mampu  menerima apa yang telah di taqdirkan Allah terhadap diri ini.

Aku yang masih tak ikhlas dalam berbagi harta atau makanan. Seakan-akan itu adalah haq ku tak ada hak mereka dalam harta ku. Seakan-akan harta itu tak akan pernah ada yang mengganti bila telah termakan orang lain. Aku yang begitu kikir atas ni’mat-Nya.

Tak ku duga aku pernah menulis ayat Al-qur’an yang artinya “ sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (ni’mat) kepadamu . tetapi jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku) maka pasti azab-Ku amat pedih ” Q.S ibrohim : 7. Begitu butanya aku apa yang ku tulis tak pernah ku resapi ma’nanya.

Aku yang sombong dengan merasa bangga bahwa diri ini adalah orang yang selalu melakukan perintah –Nya dan menjauhi larangan-Nya, padahal didalam hati masih ada rasa ingin di puji, tidak ada rasa ikhlas yang mendasari dan entah masih segudang sifat yang begitu buruk mengakar di dalm hati. Wahai diri bukannya kita telah mengkaji ilmu dalam syarah Al-hikam (syekh ibnu athoillah syakandari) bahwa

“ ketahuilah amal batin (hati) walaupun sekecil semut itu lebih baik dari pada amal lahiriyah sekalipun seebesar gunung ” .

Allah ya robb, hati macam apa ini yang masih tak mampu ku tata selama aku hidup???

Selama bumi masih berputar pada porosnya, selama nafas masih menyatu dengan tubuhku. Hati ini masih berusaha untuk menjadi lebih baik. Memandang langit, bumi dan semesta untuk dini’mati keindahannya, keindahan yang selalu menggoda hati untuk mengkaji dan menyejukan mata. Bertafakur dengan segala ilmu yang telah diterapkan disetiap ciptaan-Nya. Semoga masih diberi kekuatan hati untuk terus berbenah diri untuk bertaqwa pada-Nya.

 

 

 

 

-penulis   nurkholilah

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *