Surat Benci Demi Rasa Cinta

jokowiSurat Benci Demi Rasa Cinta

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Kepada Bapak Ir. Joko Widodo yang terhormat,

Dulu engkau adalah Idolaku,
Disaat pemimpin yang lain terlihat hedon dan sombong engkau sangat rendah hati dan santun,
Engkau pemimpin yang murah senyum dan terlihat santai disetiap kesempatan.
Disaat pemimpin yang lain mengucilkan rakyat, engkau selalu hadir dengan blusukan.
Disaat pemimpin yang lain mencampakkan wong cilik, engkau selalu mengayomi karena engkau pun berasal dari sana.
Disaat pemimpin yang lain bangga berkendara mobil mewah buatan luar negeri, engkau rela naik kendaraan karya anak negeri sendiri.
Disaat pemimpin lain amburadul dalam melaksanakan program-programnya, justru engkau punyaplan untuk menata kota Solo menjadi kota kecil penuh cerita.

Lalu engkau tiba-tiba begitu cepat melangkah ke Istana,

Kekuasaan dan jabatan tertinggi di republik ini sekarang tersemat dipundakmu

Orang lain yang sepertiku nampaknya tidak sabar melihat kiprah santunmu

1 tahun berlalu, engkau berada di kursi kekuasaan
Entah apa yang terjadi,
Engkau bukanlah orang yang dulu aku kenal
Dangan segala sanjungan dan kemewahan yang kau punya sekarang
Saya tidak mengenalmu lagi,
Saya tidak menemukan sosok panutan didalam dirimu lagi.

Kami bangga menitipkan tanah air ini pada seorang yang santun sepertimu.

Setelah melihat prosesi pelantikan KAPOLRI, KPK sempat pecah. Pilkada banyak masalah. Tersiar kabar mau meminta maaf pada PKI. Kami pun mulai bertanya apakah kesantunanmu harus kau berikan juga pada koruptor dan mafia? Para penjahat busuk dan orang asing yang mencoba memakan hak-hak kami?
Kalau iya, aku benci dengan kesantunanmu.

Saya tulis surat ini, saat harga dolar mencapai Rp.14.000,
tenaga kerja asing tidak diharuskan berbahasa Indonesia dan harus menggusur tenaga kerja pribumi, pada saat harga minyak dunia turun namun harga bensin di Indonesia belum juga diturunkan.
Sungguh manis sekali caramu memanjakan kami dengan hutang luar negeri, jadi itu menunjukkan bahwa tanah air kita punya nilai jual tinggi untuk dijadikan jaminan hutang.

Engkau selalu tersenyum untuk kami dan masih seperti dulu yang santai dan kalem.
Kami mulai bertanya apakah hari ini, disaat suasana negeri kacau kau hanya bisa tersenyum santai sembari menunggu orang lain mengerjakan tugas-tugas mu?
Kalau iya, aku benci senyummu

Blusukan masih menjadi andalanmu untuk masuk televisi dan merebut hati kami.
Ketika banyak nelayan yang tidak bisa lagi mencari ikan karena aturan yang nggak jelas, petani yang hanya di bully dengan program bagus tapi tanpa realisasi, banyak UMKM yang gulung tikar karena biaya produksi tinggi dan menurunnya daya beli. Kami mulai bertanya apakah engkau paham jeritan mereka ? Apakah kamu tahu bahwa menterimu itu tidak punya narasi?
Kalau engaku tidak tahu,
Aku benci dengan blusukan- blusukanmu.

Masih ingatkah bapak, apa yang engkau katakan dulu kepada wong cilik seperti kami. Dan ucapan-ucapan ini terpampang di setiap papan pengumuman kampanye.
beginilah katamu dulu “ kami Lebih memberdayakan wong cilik, Lebih menumbuhkan ekonomi,Lebih meratakan pertumbuhannya, Menyelamatkan uang rakyat, Melindungi Bhinneka Tunggal Ika dengan tegas untuk semua warga negara tanpa diskriminasi.”
Selamat bapak, sekarang wong cilik justru tak berdaya, Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini turun drastis, terjelek sejak 2010 dan betul merata, tapi merata kesengsaraannya, Menambah hutang rakyat, Umat Islam di Tolikara masjid rumah kios dibakar oleh GIDI, Presiden Jokowi malah mengundang GIDI ke Istana. Ini bukti nyata diskriminasi.
Kabinet ramping dan profesional, reformasi hukum, revolusi mental, kartu Indonesia sehat, Indonesia pintar, swasembada pangan, trisakti, nawacita…

Lalu janji manalagi yang harus engkau dustakan?
Aku benci dengan janji-janji kosong itu.
Wahai bapak presiden yang terhormat,

Sungguh aku tidak benci dengan engkau, sedikitpun tidak.
Yang aku benci adalah sifat yang sekarang melekat pada dirimu,
Kami percaya engaku bisa merubah sifat yang ada didalam dirimu, dan kami selalu berdoa tiap malam supaya hati kecilmu terbuka.

Sudah cukup kami melihat derita dan tangis akibat kebijakan-kebijakanmu.

Kembalilah seperti dulu.
Kalau bapak masih seperti ini pak, revolusi mental mungkin akan menjadi revolusi sosial.
Karena Indonesia lebih kami cintai, dan kami tidak mau membuatnya semakin menderita.
Mohon maaf bapak persiden yang terhormat,

aku harus benci dengan sifatmu, karena begitulah caraku mencintai Indonesia.
Sekali lagi saya yakin bapak bisa berubah dan membawa perubahan untuk Negeri ini.
Semoga…..

Wassalam…

ttd
ep
salah satu putrane wong cilik

 

 

 

tulisan keren Presiden BEM UNS 2015 Mas Eko Pujianto

Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *